Selasa, 16 Maret 2010

wedang jahe

Kalau lagi masuk angin, minuman jahe rempah ini bisa menolong untuk mengeluarkan anginnya. Dan yang pasti badan jadi hangat dan bablas angin ne...he...he.... .

Di keluarga saya, kalau masuk angin pasti selalu minum jahe rempah ini.....dan cukup membantu untuk meringankan sakitnya...Mudah-mudahan bisa menolong kalian juga ya.....

Tapi biar tidak masuk angin, kalau lagi hawa dingin juga tidak apa-apa minum jahe rempah ini....soalnya enak kog kalau diminum lagi pas dingin-dingin...dan membuatnya juga tidak susah.... tinggal seduh langsung jadi deh...he..he....

Selamat menikmati ya... dan cepet sembuh sakitnya....

Ingredients:
Bahan:

2 ibu jari jahe, kupas kulitnya, cuci lalu iris kira-kira setebal 1 cm, lalu geprek
2 kelingking batang kayu manis, cuci juga sebentar.
2 ruas kelingking kencur, kupas kulitnya, cuci, lalu digeprek juga sedikit
1-2 butir cengkeh, cuci.
Air mendidih sekali
gula batu / gula pasir / gula merah sesuai selera (tapi lebih baik pakai gula batu)

Note:

Kalau mau langsung di seduh aja, cuci semua bahan dengan air matang ya, jangan dengan air mentah.....kecuali kalau mau digodog, ga apa-apa cuci pakai air mentah, soalnya khan dimasak dulu.....

Directions:
Cara membuat:

Masukkan jahe, batang kayu manis, kencur, cengkeh ke dalam gelas lalu seduh dengan air mendidih. Aduk-aduk sampai gula batunya larut. Dan jahe agak ditekan-tekan sedikit supaya sarinya keluar. Minum hangat-hangat.

Kalau ingin lebih pedas, boleh digodog dulu sebentar dengan 300cc air sehingga sarinya jahe jadi lebih keluar lagi. Pertama godog dengan api besar dulu sampai mendidih, sambil dijaga jangan sampai mumbul, lalu kecilkan api, kemudian godog sekitar 10 menit.

Tapi kalau ingin pedasnya sedang, tidak usah digodog, langsung seduh dengan air mendidih saja.




Kamis, 12 Maret 2009

Angkringan

Angkringan (berasal dari bahasa Jawa ' Angkring ' yang berarti duduk santai) adalah sebuah gerobag dorong yang menjual berbagai macam makanan dan minuman yang biasa terdapat di setiap pinggir ruas jalan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di Solo dikenal sebagai warung hik ("hidangan istimewa a la kampung") atau wedangan. Gerobag angkringan biasa ditutupi dengan kain terpal plastik dan bisa memuat sekitar 8 orang pembeli. Beroperasi mulai sore hari, ia mengandalkan penerangan tradisional yaitu senthir, dan juga dibantu oleh terangnya lampu jalan.
Makanan yang dijual meliputi nasi kucing, gorengan, sate usus (ayam), sate telur puyuh, keripik dan lain-lain. Minuman yang dijualpun beraneka macam seperti teh, jeruk, kopi, tape, wedang jahe dan susu. Semua dijual dengan harga yang sangat terjangkau.
Meski harganya murah, namun konsumen warung ini sangat bervariasi. Mulai dari tukang becak, tukang bangunan, pegawai kantor, mahasiswa, seniman, bahkan hingga pejabat dan eksekutif. Antar pembeli dan penjual sering terlihat mengobrol dengan santai dalam suasana penuh kekeluargaan.
Angkringan juga terkenal sebagai tempat yang egaliter karena bervariasinya pembeli yang datang tanpa membeda-bedakan strata sosial atau SARA. Mereka menikmati makanan sambil bebas mengobrol hingga larut malam meskipun tak saling kenal tentang berbagai hal atau kadang berdiskusi tentang topik-topik yang serius. Harganya yang murah dan tempatnya yang santai membuat angkringan sangat populer di tengah kota sebagai tempat persinggahan untuk mengusir lapar atau sekedar melepas lelah.
Akrabnya susana dalam angkringan membuat nama angkringan tak hanya merujuk kedalam tempat tetapi ke suasana, beberapa acara menadopsi kata angkringan untuk menggambarkan suasana yang akrab saling berbagi dan menjembatani perbedaan, seperti Angkringan JTF yang diadakan oleh Litbang dan juga Angkringan Ramadhan yang sering digelar di kampus-kampus menjelang buka puasa.